Jelajah Karimata 2019 BKSDA Kalbar, Buka Peluang Bagi Para Peneliti -->

Jelajah Karimata 2019 BKSDA Kalbar, Buka Peluang Bagi Para Peneliti

23 Maret 2019,
Tim BKSDA Kalbar melihat batu yang terukir bahasa cina, yang diduga memeliki nilai sejarah di Kepulauan Karimata. (zal/BKSDA Kalbar) 

SUKADANA POST – Kegiatan Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA)Kalimantan Barat  yang bertemakan  “Jelajah Karimata 2019 BKSDA Kalbar” yang berjalan satu minggu di Kepulauan Karimata banyak meninggalkan rasa penarasan para peserta. Kegiatan ini sebagai langkah awal dalam pengumpulan data yang dilakukan BKSDA, yang dimana dari data awal ini, BKSDA akan mencoba membuka ruang bagi para peneliti untuk mengkaji lebih dalam data yang ada, baik habitat yang ada di darat, laut, hingga sejarah yang ada di Kepulauan Karimata.

Berdasarkan pengamatan yang berjalan kurang lebbih satu minggu di Karimata, banyak sekali cerita sejarah yang saat ini masih belum terungkap, sehingg diharapkan para peneliti ini dapat melakukan pengkajian lebih jauh lagi. Dari beberapa sumber yang di dapat selama berada di Kepulauan Karimata, banyak sekali para nelayan yang mendafatkan barang-barang antik di dasar laut Kepulauan Karimata, seperti piring, sendok, gerpu, pedang yang diduga sisa –sisa kerajaan di zaman dahulu. 

“Kegiatan kita selama 7 hari ini belum ada apa –apanya, hanya baru mengungkap kulit-kulitnya saja, namun banyak tema-tema yang perlu kita ungkap lebih lama lagi, lebih besar lagi. Makanya dari hasil penjelajahan yang pertama ini kita memang ingin memunculkan tema - tema penelitian yang perlu dikaji lagi oleh para peneliti, itu yang kami harapkan,”terang Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Sadtata N A saat diwawancarai awak media di Desa Betok, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kamis (21/3).

Namun, diakui Kepala BKSDA kalbar Sadtata N A,  hal penting yang ingin dicapai pada konsep pengelolaan cagar alam sebagai destinasi penelitian berbasis masyarakat ini ialah mencoba memberikan manfaat besar dari cagar alam untuk masyarakat, sehingga tercipta masyarakat yang sejahtera. Masuknya kawasan Karimata sebagai cagar alam masih dianggap hal yang menakutkan oleh sebagaian orang, padahal banyak sekali dampak positif yang dirasakan masyarakat sekitar, habitat karang, ikan yang cukup melimpah, air bersih dari pegunungan yang masih terjaga hutannya, dan lain sebagainya.

“manfaat  langsung dari cagar alam masyarakat pendapatannya dari situ, kalau cagar alam laut seperti ini mereka dapat penghasilan dari hasil laut, kalau manfaat tidak langsungnya mereka mendapat air bersih, seperti kemarin kami naik ke atas (Air Terjun Bidadari) airnya sangat melimpah, kalau pohon disini habis, airnya juga akan habis. Kami ingin memperluas manfaat dari cagar alam buat masyarakat, bukan hanya dari sumber daya alamnya saja, tapi dari kegiatan –kegiatannya, seperti kegiatan penelitian,” tambahnya. (Fau)

TerPopuler