Cagar Alam Kepulauan Karimata Sebagai Destinasi Penelitian, Ini Keuntungan Masyarakat -->

Cagar Alam Kepulauan Karimata Sebagai Destinasi Penelitian, Ini Keuntungan Masyarakat

23 Maret 2019,

Tim BKSDA Kalbar melakukan pengecekan dan pengukuran beberapa terumbu karang yang ada di Kepulauan Karimata. (zal/BKSDA Kalbar) 
SUKADANA POST – Tim BKSDA Kalbar lakukan survei di kawasan Kepulauan Karimata yang masuk dalam kawasan Cagar Alam Laut (CAL), pada Sabtu (16/3). Tim yang berjumlah puluhan orang ini menyebar untuk melakukan pendataan, baik laut, darat, hingga pegunungan. Karimata yang masuk di dalam kawasan Cagar Alam Laut ini memang sangat menarik rasa ingin tahu pengunjung, baik habitat di darat, laut, hingga sejarah yang ada di Karimata.

Karimata yang ditetapkan menjadi Cagar Alam Laut oleh pemerintah seharusnya memang tidak diperuntukan untuk kawasan permukiman penduduk, apa lagi aktivitas masyarakat yang berlebihan yang dapat berdampak buruk kepada ekositem habitat disekitar Kepulauan Karimata. Namun, kasus yang terjadi, penduduk lebih dulu menepati kawasan tersebut sebelum di tetapkan oleh pemerintah menjadi kawasan cagar alam, maka harus ada kebijakan-kebijakan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat untuk dapat terus beraktivitas, dan dapat ikut menjaga kawasan yang dilindungi tersebut.
 
“pengelolaan CA (Cagar Alam) mendapat tantangan yang luar biasa dari waktu ke waktu, orang selalu berpikir cagar alam itu kawasan yang tidak boleh diapa-apakan, bahkan disentuhpun tidak boleh. Cagar alam kita tidak dibuat, ditetapkan diatas kertas putih, sering kali sudah ada penduduknya, yang lebih dulu sebelum ditetapkan sebagai kawasan, dan mereka sudah beraktivitas,” terang Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Sadtata N A saat diwawancarai awak media di Desa Betok, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kamis (21/3).

Lanjutnya lagi, Pemerintah melalui BKSDA Kalbar ingin menawarkan sebuah konsep pengelolaan cagar alam yang berbasis masyarakat. Proram ini diakui Sadtata N A  akan memberikan dampak langsung ke masyarakat, sehingga cagar alam dapat terus terjaga dan masyarakatpun dapat sejahtera.

Konsep destinasi penelitian berbasis masyarakat ini  nantinya akan memberikan ruang kepada para peneliti untuk dapat menggali informasi yang ada di kawasan cagar alam  tersebut, peran masyarakat sebagai penduduk asli setempat  akan mendapat peran disetiap kegiatan penelitian, baik itu transportasi, rumah penduduk sebagai homestay, hingga pemandu bagi para peneiliti yang nantinya akan melakukan kegiatan penelitian disana.

“Kita harus mencari jalan keluar, bagaimana kasawasan itu tetap utuh, sukur –sukur masyarakat ikut menjaga, dan lebih sukur lagi masyarakat dapat manfaat dari pengelolaan cagar alam. Jadi  slogan hutan lestari masyarakat sejahtera itu bukan hanya slogan saja, tapi kita wujudkan betul – betul. Untuk itu kami menawarkan sebuah konsep pengelolaan cagar alam sebagai destinasi penelitian berbasis masyarakat. Dimana memang cagar alam tidak diperuntukan untuk wisata alam, tapi untuk penelitian boleh, pendidikan boleh, kami ingin potensi yang ada di cagar alam ini bisa terungkap, kalau kita bekerja sendiri tentu tidak mampu. Kita mengundang para peneliti untuk mengkaji lebih dalam potensi kawasan cagar alam,”harapnya.

TerPopuler