Dugaan Sengkarut Kebun Mitra PT KAL Bikin Koperasi BSL Merugi -->

Dugaan Sengkarut Kebun Mitra PT KAL Bikin Koperasi BSL Merugi

10 November 2018,
: Pabrik CPO milik PT KAL di Kuala Satong, Matan Hilir Utara, Jumat (9/11/2018). Kamiriludin/SUKADANA POST 

Ketapang, SUKADANA POST—Tim Penilai telah selesai melakukan pengukuran fisik kebun Kemitraan Koperasi Bina Satong Lestari (BSL) di PT Kayong Agro Lestari (KAL). Hasilnya, masih menunggu tim yang masih melakukan kerja lanjutan hingga beberapa waktu ke depan.

"Untuk penilaian fisik kebun sudah selesai. Namun, kita masih akan merekap hasilnya, baru kemudian akan kita tuangkan ke dalam berita acara," kata Ketua Tim Penilai dari Dinas Pertanian Perternakan dan Perkebunan (Distanak) Ketapang, Asralian ditemui saat melakukan penilaian fisik kebun mitra BSL PT KAL di Kuala Satong, Matan Hilir Utara, Jumat (9/11/2018).

Dikatakan Asralian, ada enam orang yang diterjunkan Distanak Ketapang melakukan penilaian fisik kebun. Lahan yang diusulkan untuk dinilai sebanyak sepuluh blok seluas 178,73 hektar.

Dalam melakukan penilaian, dikatakan Asralian, tim Distanakbun Ketapang melibatkan pihak PT KAL dan Koperasi BSL. "Nanti hasilnya akan kita sampaikan dalam rapat bersama, antara PT KAL dan BSL," ujarnya.

Ditanya kapan hasil penilaian disampaikan? Asralian belum bisa memastikan soal waktu.

"Kita belum bisa tentukan waktunya, sebab ada 74 perusahaan perkebunan se Kabupaten Ketapang dengan jumlah koperasi lebih 200 yang kita urus. Jadi sedikit butuh waktu," timpalnya.

Untuk diketahui, dari 418,64 hektar lahan perkebunan kelapa sawit milik Koperasi BSL, seluas 178,73 hektar diusulkan dilakukan penilaian fisik oleh Distanakbun Kabupaten Ketapang.

Penilaian fisik kebun kemitraan di desa Kuala Satong kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang yang digagas Koperasi BSL ini, guna memastikan laporan yang disampaikan manajemen PT KAL kalau kebun kemitraan yang sudah enam tahun ditanam, masih dalam kondisi merugi.

Dikemukakan Ketua Koperasi Perkebunan BSL, Muhammad Anton Pratama mengatakan bahwa dari laporan manajemen PT KAL kepada pihak koperasi, hasil produksi tandan buah segar (TBS) kebun mitra belum sebanding. Misalnya, hasil penjualan TBS belum mampu menutupi biaya operasional dan perawatan.

"Kalau biaya operasional dan perawatan saja belum bisa menutupi dari hasil produksi TBS, bagaimana mungkin bisa menyicil piutang koperasi di perbankan," timpal Muhammad Anton yang belum setahun menjabat sebagai Ketua Koperasi BSL, saat ikut mendampingi penilaian fisik kebun di Kuala Satong.

Sampai saat ini, klaim merugi pihak PT KAL masih sepihak. Untuk kepastiannya, pihak koperasi masih menunggu hasil penilaian fisik kebun oleh Distanakbun Ketapang.

Muhammad Anton Pratama memaparkan, hasil laporan yang ia terima dari manajemen PT KAL bahwa kebun kemitraan BSL yang dikelola PT KAL mengalami kerugian lebih Rp300 juta perbulan.

Kerugian itu didapat dari biaya operasional dan perawatan kebun yang mencapai Rp400 juta tiap bulannya.

Sedangkan hasil produksi TBS hanya mencapai berkisar Rp170 juta hingga Rp180 juta. Artinya, kerugian kebun kemitraan berkisar Rp300 juta tiap bulan. Alhasil, utang koperasi terus mengalami pembengkakan.

Disampaikannya, kebun kemitraan ditanam pada tahun 2012 dan 2013. Pada tahun 2012, ditanam seluas 278 hektar dan selebihnya ditanam pada tahun 2013. Artinya, sampai saat ini kebun sudah berjalan enam tahun.

"Berdasarkan MoU (nota kesepakatan bersaama, Red), kebun tersebut empat tahun dari tahun penanaman sudah bisa menghasilkan atau panen. Artinya, kebun yang ditanam pada tahun 2012 sudah dipetik hasilnya selama dua tahun. Kebun yang masa tanamnya tahun 2013, sudah satu tahun dipetik hasilnya. Normalnya seperti itu, namun fakta laporan dari pihak PT KAL berbeda," terangnya.

Sampai saat ini, dikatakan Muhammad Anton, laporan yang Ia terima bahwa piutang koperasi lebih Rp30 miliar. Angka itu didapat dari pinjaman modal awal yang diberikan Bank Mandiri sekitar Rp23 miliar.

Ditambah lagi biaya yang bersumber dari PT KAL yang total keseluruhan yang dibebankan ke koperasi lebih Rp30 miliar.

"Dengan kondisi seperti ini, Saya khawatir anggota koperasi tak dapat menikmati hasil kebun kemitraan. Seakan akan mereka (anggota koperasi, red) hanya sebatas atas nama," tandasnya. (kam)

TerPopuler