Ajak Masyarakat Pakai Busana Melayu -->

Ajak Masyarakat Pakai Busana Melayu

07 November 2018,
Wabup Kayong Utara H Effendi Ahmad bersama Kapolres Kayong Utara AKBP Asep Irpan Rosadi ketika mengikuti proses Mandi Safar yang dilaksanakan di muara sungai Simpang di desa Telok Melano kecamatan Simpang Hilir, KKU, Provinsi Kalbar, Rabu (11/11/2018). Istimewa
Teluk Melano, SUKADANA POST - Wakil Bupati (Wabup) Kayong Utara H Effendi Ahmad S.Pd.I mengajak masyarakat untuk kembali membudayakan penggunaan baju Melayu dalam setiap kegiatan. Disampaikannya di perayaan Mandi Safar di desa Telok Melano kecataman Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

 “Mari kita membudayakan kembali memakai baju Melayu dalam setiap kegiatan. Kita dapat memulainya ketika ada acara perkawinan di dalam keluarga dan acara lainnya,” ajak H Effendi Ahmad.

Acara Mandi Safar yang dilaksanakan warga desa Telok Melano, bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Simpang Hilir dan Dinas Pendidikan (Disdik) KKU.

Dihadiri Kapolres Kayong Utara AKBP Asep Irpan Rosadi, anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) KKU, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) KKU, dan warga desa.

Masyarakat kecamatan Simpang Hilir yang tumpah ruah di lapangan bolavoli desa Telok Melano hingga sepanjang sempadan sungai Simpang.

Wabup Kayong Utara hadir mengenakan baju Melayu berwarna Hijau. Begitu juga Kapolres Kayong Utara yang menggunakan baju dinas dengan dilengkapi memakai tanjak dan kain khas Melayu.

Acara dimulai dengan mendengarkan lantunan ayat suci Alquran dan pembacaan Shalawat Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wassalam (SAW).

Kemudian mendengarkan tausiah yang langsung disampaikan H Effendi Ahmad. Dimulai dengan mengucapkan pantun, H Effendi Ahmad mengajak masyarakat untuk senantiasa melestarikan budaya yang baik serta berserah diri kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala (SwT).

Usai mendengarkan tausiah, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah itu, H Effendi Ahmad bersama tamu yang hadir melakukan kirab dan pawai budaya menuju dermaga Telok Melano. Tujuannya untuk melaksanakan ritual Mandi Safar.

Sesampainya di sana, ratusan masyarakat yang telah menunggu acara puncak ini tampak terlihat senang dan ikut berdoa.

 “Mengucap Bismillah (atas nama Tuhan, Red), rangkaian acara Mandi Safar ini saya buka,” kata H Effendi Ahmad yang dilanjutkan memukul gong.

Usai dibuka, masyarakat kemudian melakukan ritual mandi di sungai Telok Melano.

Ketua Panitia Kegiatan, Hasnawi menjelaskan upacara adat yang terdapat di desa Telok Melano adalah tradisi Mandi Safar.

Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat karena dipercaya sebagai upaya menolak bala di bulan Safar. Bulan Safar dipercaya sebagai bulan yang banyak mengandung bahaya. Oleh karenanya, Mandi Safar ditujukan untuk membersihkan diri agar terhindar dari bahaya itu.

“Hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah, menjadi hari yang penting dalam tradisi Mandi Safar,” jelasnya.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Disdik KKU, Jumadi ibn Gading S.Sos M.Si menuturkan ini merupakan ajang silaturahmi masyarakat. Mempererat rasa persatuan guna melestarikan budaya yang ada.

“Di dalam ritual mandi safar ini, biasanya masyarakat menggantungkan daun andung yang telah ditulis ayat Alquran. Kemudian diikat di hulu air yang mengalir. Kemudian mereka mandi,” kata Jumadi yang juga Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdik KKU ini.

Terkait keinginan Wakil Bupati Kayong Utara melestarikan pemakaian baju Melayu, menurut Jumadi, Bidang Kebudayaan telah menyusun rencana peraturan daerah (Raperda) Pelestarian Kesenian dan Budaya Daerah. Nah di dalamnya telah mengakomodir hal itu.

“Semoga Raperda ini tahun depan dapat diketok palu di DPRD KKU, sehingga penggunaan baju Melayu dapat dilestarikan terutama pada hari kerja di Pemda Kayong Utara,” harap Jumadi. (007)

TerPopuler