Keraton Simpang Dicanangkan Dibangun di Simpang Hilir

Keraton Simpang Dicanangkan Dibangun di Simpang Hilir

26 Oktober 2018,

Bupati Citra Duani bersama wisatawan domestik dan mancanegara menampilkan kemahirannya dalam bermain Uri Gasing di pagelaran seni dan budaya desa Teluk Melano di lapangan bolavoli desa Teluk Melano, Jumat (26/10/2016). Mahmudi/SUKADANA POST 
Teluk Melano, SUKADANA POST—Bupati Kayong Utara Drs Citra Duani menghadiri pagelaran seni dan budaya pra-muka “Mandi Safar” yang digelar warga desa Teluk Melano, mencanangkan pembangunan Keraton Simpang. Disampaikannya  di lapangan bolavoli desa Teluk Melano, Jumat (26/10/2018).

Pagelaran seni dan budaya ini murni dihelat warga desa Teluk Melano kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), didukung Pemerintah Kecamatan Simpang Hilir dan Dinas Pendidikan (Disdik) KKU.

Bupati Citra Duani memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada warga desa Teluk Melano khususnya dan kecamatan Simpang Hilir pada umumnya. Sebab leluhurnya, selain dari Kerajaan Sukadana Darussalam, juga berasal dari keluarga besar Kerajaan Simpang.

“Masyarakat kecamatan Simpang Hilir kaya akan atas situs-situs bersejarah dan kebudayaannya. Kebudayaan yang baik mari kita pertahankan dan lestarikan. Even seni dan budaya warga desa Teluk Melano yang sudah masuk di kalender budaya Kayong Utara, diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Citra Duani.

Bupati Citra Duani menerangkan dirinya membawa lima penggiat pelanconga dunia yang juga traveler. Yaitu, David Hugh dari Kanada, Liliana dan Vlaf-Gabriel yang keduanya berasal dari Rumania, Nicola Mong Ngoc dari Belanda, dan Ben Hutchinson dari Australia.  

“Selama 12 hari mereka ke Pulau Pelapis kecamatan Kepulauan Karimata hingga ke destinasi wisata lainnya. Mereka mengkaji prospek, potensi, hingga kendala sosio ekonomi warga setempat. Hasil gambar, video, dan narasi destinasi wisata kita akan diberikan ke Pemda Kayong Utara dan disiarkan ke dunia. Termasuk pagelaran seni dan budaya desa Teluk Melano, kampung halaman bapak Saya juga,” kenang Citra Duani.

Ia berencana akan membantu membangun replika Keraton Simpang di kecamatan Simpang Hilir. “Semoga dalam waktu tidak lama, pembahasan dan pembangunan Keraton Simpang segera akan dilaksanakan,” tegas Citra Duani yang disambut tepuk tangan dan pekik gembira dari ratusan hadirin.

Bupati Citra Duani menyerahkan cinderamata Tanjak Melayu ke pengusaha villa di provinsi Bali, Vlaf-Gabriel dari Rumania yang juga penggiat pelancongan dunia di pagelaran seni dan budaya di desa Teluk Melano, Jumat (26/10/2018). Mahmudi/SUKADANA POST
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdik KKU, Jumadi S.Sos M.Si menerangkan even ini murni dari masyarakat desa Teluk Melano yang memiliki budaya “Mandi Safar”.

“Menurut sejarah yang dipercayai warga Simpang, budaya Mandi Safar ini ada hubungannya dengan budaya Robo-robo di Kerajaan Mempawah. Jadi sebelum sampai di Mempawah berhenti dulu di Teluk Melano ini,” ungkap Jumadi.

Ia menerangkan Opu Daeng Menambun dilantik untuk membantu penguasa Mempawah yang menjadi bawahan Kerajaan Matan Tanjungpura. Menurut warga Kerajaan Simpang, pelantikan Opu Daeng Menambon berada di desa Mantan Jaya kecamatan Simpang Hilir, KKU.

“Rombongan pasukan dan keluarga besar Opu Daeng Menambon menyusuri sungai Matan-Simpang yang bermuara di desa Teluk Melano, berasal dari kata Maulana yang artinya pelindung. Sekitar akhir bulan Safar di kalender Hijriah, rombongan dan warga setempat mandi. Ada yang mempercarai supaya selamat sampai di tujuan. Zaman dahulu masih ada kepercayaan-kepercayaan macam itu,” ungkap Jumadi.

Ia melanjutkan rombongan Opu Daeng Menambon sampai ke Sebukit Rama, Mempawah Lokasi Istana Amantubillah yang sekarang, sekitar tahun 1737 Masehi. Opu Daeng Menambun akhirnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara, naik tahta menggantikan Raja Senggauk pada tahun 1740 M yang tidak memiliki anak lelaki.

“Hakim agama dari Kerajaan Matan Tanjungpura, (Syarif) Habib Husein Alkadri, pindah ke Kerajaan Mempawah. Membantu siar agama Islam di Kerajaan Mempawah usai di dimerdekakan Kerajaan Matan Tanjungpura, atas jasa Laskar Opu bagi kerajaan. Walaupun Kerajaan Matan Tanjungpura kemudian juga pecah jadi tiga, seperti jadi kerajaan Sukadana, kerajaan Simpang, dan kerajaan Matan Tanjungpura II di Ketapang, namun masyarakat desa Teluk Melano masih ada yang menggelar budaya Mandi Safar,” tutur Jumadi. (mah)


TerPopuler