Kisah Tabib Sultan Muhammad Jamaludin I Kesultanan Simpang -->

Kisah Tabib Sultan Muhammad Jamaludin I Kesultanan Simpang

08 Mei 2018,
Bupati H Hildi Hamid mendampingi Tim Visitasi Kalbar dipimpin Haji Pendi meninjau ruangan dan fasilitas RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I di Sukadana, Kamis (12/4/2018). Mamik Siduk/SUKADANA POST

SUKADANA—Sepuluh tahun Kabupaten Kayong Utara (KKU) menjadi daerah otonomi, berhasil membangun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Muhammad Jamaludin I di Sukadana. Nama rumah sakit diambil penguasa pertama Kesultanan Simpang, sekaligus seorang tabib.

Tabib dari bahasa Arab, artinya ahli pengobatan atau dokter di zaman modern. Pada zaman dahulu, tabib identik menggunakan peralatan kesehatan dan obat-obatan modern di zamannya. Sedangkan dukun, juga ahli pengobatan namun juga menggunakan mantra dan energi metafisika.

Tabib dan dukun pada zaman dulu menjadi referensi pengobatan masyarakat kuno, sebelum mengenal obat-obatan kimia yang dikenalkan banga Eropa.

Pemerintah KKU menetapkan nama Sultan Muhammad Jamaluddin I untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kelas D di Sukadana, ibukota KKU, Provinsi Kalbar.

Sebagaimana terungkap di surat edaran (SE) Bupati Kayong Utara nomor 060/0643-1/OR-A pada 20 Maret 2018, ihwal menerangkan Peraturan Bupati (Perbup) Kayong Utara nomor 19 tahun 2018.

SE Bupati Kayong Utara tahun 2018, menerangkan alasan memilih nama Sultan Muhammad Jamaluddin I, adalah;

Pertama, beliau Sultan yang sudah berperan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Matan Tanjungpura I ke Simpang. Nama kerajaan berubah menjadi Kerajaan Simpang, sejarawan biasanya menuliskan Kerajaan Simpang-Matan.

Pemindahan Kerjaan Matan ke Simpang, Sultan Muhammad Jamaludin I ingin menyelamatkan rakyatnya yang sedang dilanda musibah penyakit campak dan cacar. Pada ibukota yang lama, permukiman penduduk dikelilingi gunung atau perbukitan, membuat sirkulasi udara yang masuk ke wilayah permukiman, kurang maksimal.

Wilayah baru, Kerajaan Simpang berada di daerah pertengahan antara gunung dan pantai. Bukan di dekat Pasar Teluk Melano. 

Sedangkan ibukota Kesultanan Simpang yang terakhir, memang di desa Teluk Melano hingga bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia resmi 1959. 

Melano, sebagaian sejarawan, bahasa saduran dari bahasa Arab, "Maulana" yang berarti pelindung. Muara sungai yang menghadap bibir pantai, menjadi pangkalan utama armada (sebutan angkatan laut di abad penjelajahan) Kesultanan Matan hingga diteruskan Kesultanan Simpang-Matan. 

Sebuah bandar perlindungan sebelum mencapai ibukota kerajaan, sekaligus bandar perniagaan. Sampai saat ini "kota pelindung" masih menjadi pasar tradiosional terbesar di Kayong Utara, Teluk Melano.

Selain ada pangkalan armada utama, juga terdapat pangkalan teliksandi atau mata-mata. Saat ini biasa dikenal desa Sungai Mata-mata.

Kedua, tidak menggunakan gelar Gusti, Tengku, atau gelar-gelar lainnya. Alasannya untuk menghindari kecenderungan terhadap marga atau keturunan tertentu.

Ketiga, selama masa pemerintahannya sekitar 1762-1819 Masehi, Sultan Muhammad Jamaludin I menaruh perhatian lebih di bidang kesehatan di wilayah kesultanan.

Sultan Muhammad Jamaluddin I juga sering mengajarkan kesehatan dan selalu mengingatkan rakyatnya untuk tidak berbuat sirik, iri, dan dengki terhadap siapapun.

Keempat, penamaan Sultan Muhammad Jamaluddin I ini sebagai bentuk penghargaan kepada raja yang sudah sangat berjasa selama masa penjajahan.

Sebelumnya, Bupati Kayong Utara H Hildi Hamid membenarkan kalau gedung rumah sakit yang memiliki luas 3.000 meter persegi itu RSUD Sultan Muhammad Jamaluddin I.

“Namanya diambil dari tokoh kerajaan di kecamatan Simpang Hilir, tepatnya raja pertama Kesultanan Simpang. Sultan Muhammad Jamaluddin I dikenal ahli dalam pengobatan tradisional,” kata H Hildi Hamid saat mendampingi Tim Visitasi Kalbar di RSUD Sultan Muhammad Jamaluddin I di Sukadana, Kamis (12/4/2018).

Ia menjelaskan Sultan Muhammmad Jamaluddin I memindahkan ibukota kerajaan dari desa Matan ke Simpang, kurang lebihnya daerah antara desa Matan dengan  desa Teluk Melano saat ini.

Perpindahan kerajaan ini, konon ada kaitan masyarakat yang terkena penyakit. Akibat lingkungan yang tidak terlalu sehat di Matan.

“Sultan ini raja yang memliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional. Beliau memindahkan ibukota kerajaan ke lingkungan yang lebih sehat,” kupas H Hildi Hamid.

Bupati H Hildi Hamid mengaku puas sebab di akhir masa jabatannya, berhasil mewujudkan harapan masyarakat Kayong Utara yang mendambakan rumah sakit. Ia mengajak masyarakat supaya menjaga dan merawat rumah sakit yang dalam waktu dekat akan dioperasikan ini.

“Termasuk tenaga medis yang ditugaskan di RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I, diharapkannya bekerja secara profesional. Sabar menghadapi berbagai macam sikap pasien, sebab satu dengan lainnya tak sama,” pungkasnya. (kam)

TerPopuler